Karhutla: Tebang Bakar, Asap, ISPA, dan Air Mata
Aku tidak ingin menjadikan ini sebagai berita, jadi kutulis sederhana dan personal. Ini tentang kebakaran hutan atau lebih tepatnya pembakaran hutan. Saat kucari kata kunci “Karhutla” berita-berita itu menyebut Kalimantan, asap, korban, dan hutan.
Pada 15 Oktober, wilayah dilahap api dalam 24 jam terakhir, Provinsi Kalimantan Barat (37,8 hektare), Kalimantan Tengah (64,8 hektar), Kalimantan Selatan (60,7 hektar).
Baca: https://www.kompas.com/cekfakta/read/2026/10/16/191900182/-klarifikasi-bmkg-bantah-asap-karhutla-kalimantan-sampai-ke-jakarta-danBMKG mengonfirmasi asap telah memasuki atmosfer Jakarta dan Jawa Barat. Belum sampai daratan, informasi berasal dari satelit Himawari-9.
Petugas dan relawan, dalam sebuah berita kebakaran di Bromo, 4 meninggal dan diberi santunan 10 juta rupiah, diberikan oleh Pemprov Jatim.
Baca: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261016170000-12-1416266/empat-petugas-tewas-imbas-karhutla-bromo-disantuni-rp10-jutaImbas dari kebakaran, maaf, pembakaran hutan ini juga telah melewati batas negara. Perdana Menteri Singapura menyebut akan mengusut dengan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act) Singapura.
Baca: https://news.detik.com/internasional/d-8709853/singapura-pertimbangkan-usut-perusahaan-di-balik-karhutla-pemicu-asapSekilas tentang undang-undang itu, berlaku mulai September 2014. Jika di daerah manapun bagian Singapura mengalami Indeks Standar Polutan (PSI) dengan kategori Tidak Sehat selama 24 jam, maka Singapura memiliki wewenang hukum untuk mengadili pelaku, dalam kasus ini pelaku pembakaran hutan di Indonesia, baik perusahaan, kemitraan, maupun individu.
Di Indonesia sendiri ada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH). Singkatnya, jika terjadi kebakaran di wilayah perusahaan, maka tanggung jawab mutlak korporasi atas kerugian yang terjadi tanpa peduli apakah disengaja atau tidak. Hukumannya seperti pencabutan izin usaha, pemulihan lingkungan, hingga jeruji besi.
Jadi kalau memang mau, ini hal yang seharusnya bisa dibereskan lebih dini oleh kepala negara. Bahkan konfirmasi dari bapak Dino Patti Djalal menyebutkan saat bekerja di istana, ada teknologi yang bisa menunjukkan kebakaran dari semua titik perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia dengan akurasi sekitar 1 meter.
Tonton: https://www.instagram.com/reel/DdTdP_JO2R7/?mdxt=MWJ2M213d2duaXVmaw==
Baiklah, ini sudah terlanjur merata ke seluruh daratan. Tapi apakah memang hanya bisa mengandalkan hujan?
“Masalah asap nanti kami minta masukan para profesor bagaimana. Saya kira memang benar ujungnya hanya hujan air ya,” ujar Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, 12 Oktober lalu.
Baca: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cr1exgw4x2nwoYang lebih memilukan selain meme jerebu, kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) sudah ratusan tibu akibat asap pembakaran hutan.
Bukan soal asap saja, tapi soal anak-anak yang juga kehilangan ayahnya, kehilangan saudaranya, terganggu kehidupannya bahkan masa depannya.
Anak-anak bernapas lebih cepat dari orang dewasa, sehingga asap kebakaran hutan bisa 10 kali lipat lebih berbahaya bagi anak-anak yang sistem imunnya saja masih dalam masa pertumbuhan. Dan peradangan (proinflamasi) bisa mengganggu perkembangan paru-paru anak secara permanen.
Baca: https://www.kompas.id/artikel/kasus-ispa-capai-288000-kasus-kemenkes-dorong-ketersediaan-ruang-aman-asapDi Sumatera Selatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan uji coba teknologi dry ice dengan menyemai sekitar 1,5 ton di ketinggian sekitar 4500 kaki. Hasilnya cukup positif dengan meningkatkan jarak pandang yang tadinya sekitar 650 meter menjadi 2800 meter.
Baca: https://m.antaranews.com/amp/berita/5790017/bnpb-jelaskan-manfaat-cara-kerja-dry-iceuntuk-atasi-asap-karhutlaAkhirnya aku temukan kabar yang cukup positif pada kata kunci “Karhutla”. Jika memang memungkinkan, cara-cara semacam ini juga bisa diterapkan di daerah-daerah terdampak lainnya. Paralel dengan segera mengusut dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan.
Kalau dikira-kira, sudah sekitar 2 bulan terakhir berita karhutla tidak selesai-selesai dan malah bertambah parah setiap harinya. Bayangkan soal anak-anak yang 10 kali lipat lebih rentan, soal sekolah-sekolah dan tempat tinggal yang tak bisa lagi ditinggali tanpa terjangkit ISPA.
Dalam sebuah film survival, kondisi ini sudah disebut sebagai apokalips. Sayangnya, orang-orang di lokasi-lokasi terdampak bukan pemeran utama yang akan selalu bertahan sampai akhir. Ada yang sakit, ada yang menghembuskan napas terakhirnya. Bukan saja manusia, hewan-hewan, tumbuhan, sumber air, dan sebagainya semuanya terdampak. Ekosistem yang rusak, maaf, dirusak berdampak pada semua hal di dalamnya. Apakah dalam kondisi semacam ini, pemimpin negara hanya mau menunggu hujan air?
&&&
Ditulis dengan perasaan yang campur aduk pada Jumat, 16 Oktober 2026 21:23 di dalam kamar kos dengan mata yang kadang berkaca –2, kadang air.