Buku anak-anak yang ceritanya bukan untuk anak-anak.

Genap seminggu. Aku bukan hobis membaca. Namun habis juga novel “Di Tanah Lada” karya Ziggy. Tidak hafal nama panjangnya karena terlalu panjang. Awalnya aku penasaran setelah membaca “Semua Ikan di Langit” yang cukup menjelmakan aku menjadi bus kota yang mengitari angkasa. Di Tanah Lada ternyata mengutukku juga: menjadi anak-anak. Anak-anak yang bukan anak-anak. Aku tidak bisa membayangkan ada anak-anak yang begitu dewasa dan tegar di dunia ini. Untungnya, Di Tanah Lada adalah novel. Semua jenis anak-anak bisa ada. Bisa sangat dewasa. Bisa sangat tegar. Meski sebagian idenya aku yakin ada banyak di dunia nyata.

Salva Si Garam dan P si Lada, mereka anak-anak yang kumaksud.

Aku jadi takut menjadi Papa. Tadinya aku mau bilang, “tidak semua Papa jahat, P, Salva. Masih ada banyak Papa yang baik. Papa yang tidak memukul, baik pakai tangan atau pakai setrikaan. Papa yang tidak berjudi. Papa yang selalu ada untuk menjelaskan kata-kata sulit yang tidak Salva mengerti. Jadi tidak perlu harus membuka kamus lalu salah mengerti.”

Namun setelah sampai pada kata terakhir Di Tanah Lada, aku jadi takut. Anak-anak belajar lebih cepat dari Papa yang belajar menjadi baik. Jadi untuk menjadi Papa yang baik, aku rasa, tidak harus menjadi Papa dulu. Papa yang baik adalah Papa yang sudah Papa yang baik tapi belum menjadi Papa. Agar tidak ada Salva dan P yang kedua dan ketiga dan seterusnya. Bukan berarti aku membenci mereka. Keduanya anak pintar, kelewat pintar, hingga pada titik kelewat dewasa untuk disebut anak-anak. Keduanya kuat. Meski menangis, bukan berarti tidak kuat. Meski takut, bukan berarti tidak kuat. Mereka kuat karena bertahan. Hingga akhirnya tidak.

Ternyata menjadi orang dewasa yang serba tidak tau bisa sangat kejam. Ketidaktahuan adalah kekejaman. Tidak tau bahwa perbuatannya bisa merenggut kehidupan anak-anak yang tidak tau apa-apa. Meski ketidaktahuan tidak bisa disalahkan, tapi seharusnya dipertanggungjawabkan. Setidaknya bertanggung-jawablah. Jangan hanya datang setelah anak-anak dipaksa dewasa karena keadaan. Belajar itu bukan berhenti dari tanggung-jawab karena alasan takut, lalu belajar, lalu terlambat. Tapi bagaimana tetap menjalaninya sambil memperbaiki keadaan.

Ah, aku hanya ingin mengumpat. Orang-orang dewasa di novel ini ingin sekali kuumpat. Kujejalkan nama-nama binatang, sumpah serapah, dan tamparan sandal jepit di wajah.

P dan Salva, sepertinya kalian akan membuat ikatan sendiri saat kulihat Pepper dan Salt di meja. Aku akan ingat kamus yang selalu dibawa ke mana-mana oleh Salva. Aku akan ingat gitar dan lagu satu-satunya yang P tau. Atau bisa jadi aku akan lupa juga. Orang dewasa sering lupa. Apalagi kalau sudah fokus bekerja atau bercanda atau marah atau sedih atau tenggelam dalam rutinitas membosankan dan melelahkan.

Di Tanah Lada membuatku memikirkan ulang bagaimana anak-anak memandang dunia dan belajar. Karena sampai saat ini, aku masih tidak tau, apa yang ada di kepala anak-anak usia enam. Sudah bicara. Sudah sekolah. Sudah paham orang bercerita. Sudah bisa banyak hal. Tapi apakah apa yang dipahami memang hal-hal yang sepatutnya dipahami? Atau ada banyak hal yang sebenarnya belum waktunya? Lalu apa yang sebenarnya harus dipahami? Dan bagaimana caranya agar mereka memahami?

Ada lebih banyak pertanyaan jika dipikirkan, tapi untuk saat ini cukup. Cukup tau bahwa Papa jahat memang ada di dunia. Dan aku cukup menyayangkan keputusan P yang membawa Salva. Meski begitu Di Tanah Lada memang berakhir epik dengan ending seperti ini. Di dua lembar terakhir aku sudah tau arahnya. Namun pada setiap narasi, pada setiap paragraf yang kubaca, aku masih berharap Mas Alri atau siapapun mencegahnya.

Salva, jangan jadi telur. Jadi penguin saja. P juga. Dan Pe akan jadi anak kalian berdua. Dan di kutub sana, jangan ketemu manusia. Hiduplah bertiga. Tidak perlu bertemu siapa-siapa. Cukup nikmati waktu kalian yang tidak bisa dinikmati sebagai P dan Salva dewasa.

Jadi bagaimana Di Tanah Lada?

Jawabanku, tidak seberat Semua Ikan di Langit. Gaya bahasanya maksudku. Karena genrenya juga sudah beda jauh. Kenapa aku bandingkan? Karena dari awal aku penasaran saja setelah membaca Semua Ikan di Langit. Ada kesan unik yang, oh, benar ini Ziggy. Dan kalau membaca catatan di akhir, sepertinya yang aku baca adalah cetakan setelah endingnya ditulis ulang. Katanya, di versi sebelumnya, endingnya bahagia. Tapi aku tidak mau baca. Aku suka ending sekarang.