Cara Menjadi Gila
Sebelum pertanyaan bagaimana menjadi gila, kita tengah membahas orang-orang yang kehilangan cita-cita. Katamu, di negara ini, rakyat-rakyat tidak diperbolehkan bercita-cita. Pernyataan yang begitu kiri, timpalku. Namun kau malah marah, menonjok pipi kiriku.
“Bangsat!” ucapmu dengan nada tinggi yang tak pernah aku sangka akan keluar dari mulutmu. Aku tersungkur di pinggir jalan. Sore itu kita jogging di sekitaran alun-alun. Aku terduduk ditonton beberapa orang. Salah satunya memegangimu. Sementara aku memegangi pipi kiri yang berdenyut. Setelah itu kita berpisah. Lebih tepatnya kau pergi meninggalkanku.
Aku memilih untuk menghentikan jogging. Duduk di bawah pohon beringin, memesan seporsi kue rangin. Masih hangat. Kumakan perlahan sambil menatap jauh ke arah anak yang sedang belajar naik sepeda dengan ayahnya, sementara ibunya duduk di dekat mereka sambil mengangkat gawai dan tertawa. Tampaknya mereka sedang piknik keluarga. Tiba-tiba tebersit di kepalaku, kira-kira apa cita-citanya?
Dua butir kue rangin habis kutelan dan kutebak anak itu akan menjadi dokter. Karena terasa mengganjal di tenggorokan, aku menuju warung dekat masjid. Kupesan sebotol air mineral. Payahnya, aku tak bawa apa-apa. Dompet dan ponsel di kontrakan, lima kilometer dari alun-alun. Sementara air sudah ditenggak hampir setengahnya, aku menghadap pemilik warung.
“Maaf, bu. Boleh utang dulu? Saya tidak bawa uang.”
Pemilik warung menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku tersenyum ragu. Spontan kulepaskan smartwatch di tangan. Jaminan bahwa aku akan kembali lagi. Ibu warung tidak menjawab, hanya mengangguk. Aku bergegas pergi. Berjalan pulang. Kau mungkin lupa. Kita berangkat jogging dengan aku menumpang kendaraanmu. Tidak sedang menyalahkan, tapi mungkin memang salahku. Orang yang marah sering melupakan banyak hal. Atau mungkin ingat, tapi tidak penting sama sekali dibanding marahnya sendiri. Dan aku membuatmu marah. Meski aku sendiri tak tahu kenapa kau marah hanya karena disebut kiri.
Aku menjauh dari alun-alun, berjalan perlahan di pinggiran jalan yang tak ada trotoarnya. Hampir semua jalan di sini memang tidak untuk pejalan kaki. Sesekali kutenggak lagi air mineral yang belum kubayar. Biasanya, bukan berarti aku biasa berutang, tapi biasanya, apakah pemilik warung akan menerima jam tangan sebagai jaminan karena tidak membayar sebotol air mineral? Sebenarnya aku cukup kecewa saat ibu warung hanya diam mengangguk. Meski aku memang tidak berbasa-basi, tapi rasanya tidak benar. Kau setuju, kan?
Dan kepalaku masih terus berputar sampai suara klakson motor menyentak keras, tepat di sampingku. Kau kembali sambil mengulurkan jam tangan. Saat itu kita hanya saling tatap. Dan beberapa detik kemudian aku tertawa. Disusul suaramu yang tidak kalah menggelegar.
Aku tak jadi kembali ke kontrakan. Kau mengajakku ke warung kopi di pinggir jalan. Dan sepiring mendoan tersaji bersama dua gelas kopi hitam yang keruh. Belum sempat bicara, kau mulai dengan maaf karena terlalu emosi. Aku tersenyum dan melontarkan kata yang sama. Mungkin akulah yang terlalu tidak peka.
“Jadi kita lanjutkan?” Aku meneguk kopi dan kau menggigit mendoan panas dengan sebutir cabai rawit, mengangguk. “Kau mau tahu cara menjadi gila?” ucapmu antusias dengan bibir tersenyum. Namun suaramu bergetar. Dan aku sadar, bukan karena cabai rawit. Bukan pula karena mendoannya masih berlumur minyak panas. Senyummu tertahan dengan mata yang menunggu jawaban.
Aku mengernyit. Memasang telinga dan kau mulai berucap.
“Tidak tahu,” katamu tanpa rasa bersalah.
Aku tertegun sebentar, lalu kita tertawa hampir bersamaan. Dua pria dewasa yang tiba-tiba mendapat tatapan sekitar karena mencari cara menjadi gila. Obrolan kita berlanjut sambil menggigit mendoan dan meneguk kopi pahit sedikit demi sedikit.
&&&
Sebulan berlalu sejak kau bercerita. Cerita yang pada akhirnya tak kau tuntaskan. Tidak seru jika diselesaikan, katamu. Lantas berjanji memberi lanjutannya sebulan kemudian.
Benar saja, sebuah paket kuterima. Entah permainan apa yang sedang kau lakukan. Kau membuatku meragukan diri sendiri. Orang yang selama ini kukenal rasanya menjadi tidak kukenal sama sekali.
Di warung kopi pinggir jalan waktu itu, kau juga menceritakan tentang Parta dan alasan kita berteman. Aku setuju bahwa jika Parta tidak gila, dan kau bukan anaknya, tentu kita tidak akan menjadi akrab.
Parta sebelum gila adalah seorang guru yang suka bercerita. Menjawab pertanyaan dengan cerita. Kadang membosankan sampai kita mengantuk, tapi tetap menyenangkan. Meski terasa mengada-ada juga.
Namun setelah gila, Parta hanya diam saat ditanya. Hanya jika pertanyaan itu menyangkut tulisan, jujur, dan menentang, Parta tak lagi diam. Kadang berteriak, kadang melepas baju dan berlari telanjang, atau kadang meringkuk di bawah meja makan. Dan kau dikucilkan sebagai anak orang gila. Begitulah pertemanan kita dimulai, aku yang pendiam dan kau yang terpaksa diam oleh keadaan, bertemu di suatu waktu.
Aku bertanya padamu kenapa kau bercerita soal orang yang sudah meninggal. Namun cerita ini baru permulaan dan kau melanjutkan.
Parta menjadi gila secara tiba-tiba. Kau lupa alasannya, tapi setelah bertanya pada ibumu, diketahui kegilaan itu muncul setelah perjalanan dinas ke luar kota. Dinas pertama dan terakhir bagi Parta.
“Mungkin kena jampi-jampi,” katamu menirukan suara ibumu dengan setengah berbisik. Aku hampir tersedak saat itu, tapi kau juga buru-buru menimpali bahwa alasan ibumu tidak masuk akal. Setelah menyeruput kopi pahit yang mulai dingin, kau melempar sebuah hipotesis liar.
Bagaimana jika Parta tidak gila dan hanya berpura-pura? Sama seperti penari jaranan yang tidak benar-benar kesurupan. Mereka berlatih agar terlihat meyakinkan. Begitu juga menjadi gila. Aku tahu kau mulai mengada-ada atau sedang mengarang kelanjutannya. Karena kau diam cukup lama, menghabiskan sebuah mendoan lagi tanpa berkata apa-apa. Kemudian kau menjanjikan akan mengirimkan kelanjutan ceritamu ke kontrakan, sebulan lagi.
Hari ini waktu yang kau janjikan. Kiriman darimu sampai pagi tadi dan sudah aku baca lagi beberapa kali. Aku juga mendapat kabar tentangmu tapi tidak darimu. Siaran berita sore mengatakan seorang politikus ditikam pria tidak waras dan mati seketika. Aku biasa saja sampai kudengar namamu disebut pewara di televisi. Disambung dengan pria itu masih dalam pemeriksaan kejiwaan di rumah sakit jiwa. Dan dua potret pria terpampang di layar kaca. Kau di kanan dan pria yang mati di kiri.
Mendadak pipi kiriku terasa berdenyut lagi.
Parta tidak pernah benar-benar gila.
Kalimat itu kau tulis di belakang foto seorang pria, kiriman darimu yang sampai pagi tadi. Kubalik foto dan wajah yang sama masih tampak di televisi.
Aku letakkan foto itu di atas meja. Kumatikan televisi dan berganti pakaian olahraga. Kali ini, aku membawa dompet dan ponsel. Mulai sekarang, aku akan membiasakan jogging sendiri. Tanpa dirimu.